Budaya Malas Membaca Mahasiwa Modern

Sebagaimana banyak diketahui, mayoritas mahasiswa Indonesia itu malas membaca. Munculnya berbagai café dengan fasilitas wifi menyuburkan penggunaan gadget untuk ngobrol di WA, upload status facebook, download mp3 atau film, serta berbagai aktivitas setipe yang merupakan sebentuk kelisanan sekunder.

Kira-kira berapa persen pengguna internet di Indonesia yang telah beralih menjadi konsumen pengetahuan? Dan berapa persen yang sudah mulai beralih menjadi produsen pengetahuan?

Dalam penelitian yang diadakan surat kabar Kedaulatan Rakyat, rata-rata mahasiswa di Yogya per bulan menghabiskan Rp. 50.000 untuk membeli pulsa dan hanya Rp. 20.000 untuk membeli buku (dan buku seharga ini biasanya adalah buku obralan atau buku populer tipis), entah bagaimana kondisinya di kota lain.

Begitu sering terdengar keluhan soal harga buku yang mahal. Tapi nyaris tak terdengar keluhan ihwal mahalnya harga pakaian baru di factory outlet, harga gadget terbaru, atau harga sekali makan di café?

Apabila dibandingkan, buku yang dirawat dengan baik bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya, sementara semua komoditi gaya hidup yang disebutkan di atas apakah bisa menyaingi keawetan sebuah buku? Masihkah relevan mengatakan bahwa harga buku itu mahal?

Akar permasalahannya, di kalangan terdidik Indonesia yang mayoritas masih bertradisi lisan ini, buku belum termasuk sebagai bagian dari daftar belanja rutin bulanannya. Apabila diadakan pengamatan sekilas, mudah untuk mendapati kamar kos mahasiswa yang hanya dihiasi oleh segelintir buku saja selama mereka masa kuliahnya.

Adalah lazim bahwa mereka memiliki desktop atau laptop, namun penggunaannya lebih untuk menyalurkan kelisanan sekundernya (plus bermain game atau malah memutar film-film porno).


Leave a Reply